Membaca dan Peradaban

Oleh: Hos Arie R Sibarani, SH

Pengurus Forum Muda Cendekia Muslim (FMCM) Lamsel

Membaca, membuka cakrawala pengetahuan kita. Maka tepat jika ada ungkapan menyebutkan, membaca, membuka jendela dunia.

Semakin banyak membaca, semakin banyak informasi yang kita ketahui. Mulai dari politik, agama, sosial dan budaya. Dengan membaca pula, kita mampu menyelami alur pemikiran si penulis.

Membaca merupakan hal terpenting khususnya dikalangan pelajar dan mahasiswa. Saya merasa aneh, jika pelajar dan mahasiswa tidak suka membaca buku.

Minimal seseorang membaca satu buku untuk satu hari. Saya teringat pada seorang filusuf yang mengatakan “engkau adalah apa yang kamu baca”.

Sebuah pernyataan yang sangat provokatif. Membaca dihubungkan dengan keberadaan seseorang. Jika seseorang tidak membaca berarti keberadaannya diragukan.

Terkait dengan masalah membaca, fakta lain adalah laporan tingkat keterbacaan halaman buku di Indonesia yang tidak mencapai satu halaman per hari perorang.

Jika dihubungkan lebih jauh lagi kegiatan membaca berarti membangun peradaban. Dengan membaca maka ilmu pengetahuan akan muncul dan berkembang.

Tanpa membaca mustahil akan tercipta suatu peradaban yang maju dan ber-keilmuan. Budaya membaca membedakan peradaban maju dengan primitif, antara negara maju dan negara berkembang.

Rendahnya budaya membaca disinyalir menjadi penyebab Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia masih rendah. Pada 2007, IPM Indonesia sebesar 0,726 masih menempati urutan 108 dari 179 negara yang ada.

Meskipun angka itu mengalami peningkatan dibandingkan dengan 2005 ( 0,697 ), namun peningkatan ini masih belum menggembirakan. Jumlah warga buta aksara Indonesia juga masih tinggi.

Badan Pusat Statistik ( BPS ) dan Departemen Pendidikan Nasional melaporkan, bahwa warga buta aksara di Indonesia pada 2007 sebesar 18,1 juta orang, 4,35 juta diantaranya adalah usia produktif dan sebagian besar perempuan ( lebih dari 70% ).

Masih rendahnya budaya baca dikalangan pekajar dipengaruhi oleh problem kultur yang ada di Indonesia. Rendahnya SDM Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Ditambah lagi budaya-budaya asing yang menawarkan kenikmatan menggiurkan telah mengkikis perlahan-lahan kultur lokal. Akibat selanjutnya adalah mandegnya budaya kreatif.

Akhirnya, saya mengajak seluruh masyarakat Lampung Selatan (Lamsel) untuk membudayakan aktifitas membaca demi membangun Lamsel di masa yang akan datang.

0 Responses to “Membaca dan Peradaban”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: