Menyoal kelas Jauh

Oleh: Hos Arie R Sibarani

Pengurus Forum Muda Cendikia Muslim (FMCM) Lamsel

Beberapa hari yang lalu Forum Muda Cendikia Muslim (FMCM) menyelenggarakan Sarasehan Pendidikan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional, sepuluh tahun Reformasi dan seratus tahun Hari Kebangkitan Nasional.

Pada intinya pendidikan adalah gerbang utama untuk menuju perubahan yang lebih baik. Diperlukan banyak hal untuk memperbaiki kualitas dunia pendidikan terutama di Lampung Selatan.

Diantaranya perhatian Pemerintah Daerah yang minim, kerja sama antar pihak terkait sehingga tercipata sinergi. Dan terakhir pendidik itu sendiri yang merasakan secara langsung positif dan negatifnya arah perkembangan dunia pendidikan.

Persoalan lain yang menggemuka dan menggelitik saya untuk menulis adalah persoalan kelas jauh yang mulai marak diselenggarakan di Kabupaten Lampung Selatan. Persoalan ini adalah persoalan klasik, tetapi tetap harus dijawab.

Pertama, saya tidak mau menyebutkan satu per satu siapa saja yang terkait. Bukan karena saya takut, tapi sudah bukan rahasia lagi siapa saja yang terlibat. Yang ingin saya jabarkan adalah dampak penyelenggaran kelas jauh terhadap kualitas dunia pendidikan dan mentalitas bangsa.

Kedua, tulisan ini sejatinya ingin menghindari masyarakat terjebak ke dalam situasi yang merugikan. Pertanyaan yang ingin saya lontarkan adalah apakah kita bangga dengan gelar kesarjaan yang diperoleh secara instan?

Karena sejatinya pendidikan adalah proses menjadi lebih baik, bukan malah menambah persoalan baru. Akibatnya, pendidikan menjadi komoditas bisnis yang menguntungkan pihak penyelenggara serta mengabaikan esensi pendidikan itu sendiri.

Modusnya Perguruan Tinggi entah itu Negeri atau Swasta di Jawa membuka kelas pembelajaran jarak jauh di luar jawa. Hal ini untuk meyakinkan bahwa Perguruan Tinggi tersebut bonafide.

Sementara, masyarakat seperti juga terkena sindrom ijasah. Saya hanya mengingatkan bahwa gelar akademik bukan sekedar gelar ningrat, tetapi pencapaiannya memerlukan kaidah dan prosedur ilmiah yang berlaku.

Pragmatisme

Masih diminatinya pendidikan kelas jauh ini, tidak terlepas dari sikap pragmatisme masyarakat Lampung Selatan yang menginginkan gelar kesarjanaan tanpa perlu meninggalkan kerja, serta gila gelar.

Program pendidikan kelas jauh menurut saya mengakibatkan degradasi pendidikan di

Indonesia khususnya di Lampung Selatan.Kelas jauh dalam hal kurikulum, tenaga pengajar, dan sarana belajar jelas kualitasnya jauh di bawah standar.

Untuk program pendidikan jarak jauh pemerintah hanya mengakui Universitas Terbuka (UT) sebagai institusi resmi, sementara kelas jauh tidak dikenal dalam UU Sisdiknas, apalagi sampai memberikan gelar kesarjanaan.

Kualitas lulusan mereka dan ilmu yang didapat selama perkuliahan yang dilaksanakan dalam waktu singkat dan intensitas minim itu sangat diragukan.

Peran Pemda

Pemerintah daerah harus mengendalikan sejumlah Perguruan Tinggi yang membuka program kelas jauh untuk meluruskan arah dan tujuan pendidikan nasional. Intervensi itu bisa dalam bentuk penindakan sekaligus mempertahankan mutu pendidikan

Pemerintah juga harus tidak mengakui lulusan kuliah sistem ini. Pasalnya sistem ini bertentangan dengan PP No. 60/1999. Untuk itu, Direktorat Kelembagaan Dirjen Dikti mengeluarkan Surat Edaran No. 595/D5.1/2007 yang menyebutkan terhitung sejak 27 Februari 2007 telah melarang model kelas jauh dan kelas sabtu-minggu dan telah menetapkan bahwa ijasah yang dikeluarkan tidak sah dan tidak dapat digunakan tahap pengangkatan maupun pembinaan jenjang karier penyetaraan bagi PNS, TNI, dan Polri.

Penyelenggaraan dan pemegang ijasah yang tidak sah ini dapat dikenakan hukuman berdasarkan UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 67, 68, 69, dan 71.

SK Dirjen Dikti dan UU tersebut secara tegas mengatur sanksi hukuman pidana selama 10 tahun dan denda Rp 1 miliar bagi penyelenggara kelas jauh.

Kesimpulan

Perlu Tindakan yang berani dalam hal menertibkan kelas jauh ini. Apabila Pemerinta Daerah konsisten akan menjadi salah satu wujud penegakkan hukum dibidang pendidikan tinggi nasional.

Tindakan Pemda tersebut sesuai dengan tujuan Perguruan Tinggi yang menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat dengan kemampuan akademik dan/atau profesional dalam mengembangkan dan memperkaya khazanah IPTEK, mengembangkan dan menyebarluaskan IPTEK guna meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Pencapaian tujuan itu dipedomani a). tujuan pendidikan nasional, b). Kaidah, moral dan etika ilmu pengetahuan, c). Kepentingan masyarakat, d). memperhatikan minat, kemampuan dan prakarsa pribadi (PP No. 60/1999 Pasal 2). Kita tunggu keberanian Pemda menindaklanjuti penyelenggara kelas jauh. Wallahu Alam Bishawab. (dimuat di Radar Lamsel, 28 Mei 2008).

0 Responses to “Menyoal kelas Jauh”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: