Potret Buram Dunia Pendidikan

Oleh: Hos Arie R Sibarani

Pengurus Forum Muda Cendekia Muslim (FMCM) Lamsel

Pendidikan adalah sebuah proses membawa seseorang keluar dari dirinya sendiri untuk mendapatkan jati diri, terlebih jati diri kemanusiaan, karena hakikat dari pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia (humanisasi).

Berbicara tentang pendidikan, kita teringat seorang penulis dan pejuang terkenal yakni Paulo Freire. Paulo Freire mulai terkenal luas ketika ia menulis buku: Pedagogy of the Oppressed.

Dalam karya lainnya: Pedagogy of the City, Paulo Freire menggambarkan keterpurukan dunia pendidikan di Brasil pada awal dasawarsa 1990-an. Jutaan penduduk Berasil tidak bisa melanjutkan pendidikan anak-anaknya karena terbelenggu oleh biaya pendidikan yang semakin melejit.

Orang-orang yang bertahan di sekolah adalah orang- orang yang berasal dari kelas elit yang tidak mengalami kesulitan dengan keuangan. Akibatnya, banyak sekolah yang kosong karena ketiadaan siswa.

Jumlah gedung sekolah yang layak pakai pun semakit merosot. Selama dasawarsa tahun 1990-an itu sekitar lima puluh bangunan sekolah yang mengalami rusak parah, dan aliran listrik terputus.

Apa yang digambarkan oleh Paulo Freire di Brasil pada dasawarsa 1990-an kini sedang terjadi di Negara Republik Indonesia. Setiap tahun ajaran baru, para siswa dan orangtua menjerit karena mahalnya biaya sekolah.

Selain itu, banyak gedung sekolah yang tidak layak pakai terdapat di mana-mana. Sebuah ironi besar, di era teknologi informasi dan globalisasi, wajah pendidikan Indonesia masih buram.

Angka putus sekolah semakin bertambah, penggangguran semakin meningkat, dan jumlah penduduk buta aksara tidak mengalami penurunan yang signifikan.

Beragam permasalahan di atas berusaha untuk kita temukan jawabannya. Namun, bukan jawaban dan penyelesaian kita dapatkan, malah bertumpuk-tumpuk masalah baru mendera.

Apa sebabnya? Kita belum mampu mengkonstruksi sebuah sistem pendidikan nasional yang berangkat dan bertumpu lewat pondasi paradigma pendidikan yang mantap dan kompatibel dengan kondisi sosiologis, antropologis, geografis, dan kultural Indonesia.

Kita juga tidak memperhatikan dengan serius basis sosial yang ada di daerahnya masing- masing. Akibatnya, sekolah yang didirikan seolah-olah tidak menjawab kebutuhan yang ada di daerah.

Sekolah umum lebih banyak ketimbang sekolah kejuruan. Padahal 30-40% per tahun lulusan SLTA tidak melanjutkan ke perguruan tinggi dan juga tidak bekerja. Kalaupun ada sekolah kejuruan, jurusannya tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Di tengah masyarakat petani yang dikelilingi berbagai tanaman pangan didirikan jurusan elektro, bangunan, dan lainnya yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pendidikan kita memang melahirkan mismatch yang luar biasa dengan tuntutan dunia kerja yang kompetitif. Terakhir, pendidikan harus terlepas dari belenggu dan keharusan untuk menciptakan dan menghasilkan manusia-manusia yang menjadi mesin dan robot bagi kepentingan industri dan modal.

Tetapi pendidikan harus jauh berorientasi untuk menghasilkan sumber daya manusia yang secara kualitatif mampu melakukan transformasi secara aktif dan progessif dalam beragam level dan tingkatan masyarakat secara konsisten dan komprehensif.

0 Responses to “Potret Buram Dunia Pendidikan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: