Urgensi Pendidikan Pemilih Pemula

Oleh: Hos Arie R Sibarani

Pengurus Forum Muda Cendekia Muslim (FMCM) Lamsel

Jelang pemilihan gubernur Lampung bulan September mendatang. Berbagai strategi tentu telah disiapkan oleh masing-masing kandidat yang akan bertarung di pesta demokrasi untuk menentukan orang nomor satu di provinsi ini. Strategi itupun diarahkan untuk menghimpun suara sebanyak-banyaknya.

Pengalaman pilkada dibeberapa daerah, pemilih pemula adalah sasaran yang menjadi perburuan suara para calon. Tak jarang berbagai carapun dilakukan untuk bisa menghimpun suara mereka. Pendidikan politik yang masih rendah di kalangan pemilih pemula adalah sumber masalah yang cukup signifikan dalam proses pilkada, tak jarang suara mereka diarahkan kepada pasangan calon dengan membawa muatan-muatan atau jargon-jargon tertentu.

Pemilih pemula menduduki posisi penting dalam Pemilihan Umum 2004. Pasalnya, ditilik dari jumlahnya, pemilih pemula mencapai 34 persen dari keseluruhan pemilih di Indonesia yang mencapai 147,219 juta jiwa. Pemilih pemula yang baru mamasuki usia hak pilih pastilah belum memiliki jangkauan politik yang luas untuk menentukan ke mana mereka harus memilih.

Sehingga, terkadang apa yang mereka pilih tidak sesuai dengan yang diharapkan. Alasan ini pula yang menyebabkan pemilih pemula sangat rawan untuk digarap dan didekati dengan pendekatan materi. Ketidaktahuan dalam soal politik praktis, terlebih dengan pilihan-pilihan dalam pemilu atau pilkada, membuat pemilih pemula sering tidak berpikir rasional dan lebih memikirkan kepentingan jangka pendek.

Disisi lain, ada beberapa faktor yang juga turut berpengaruh terhadap pilihan para pemilih pemula, dari sebuah studi yang pernah dilakukan terungkap bahwa afiliasi politik orang tua mempunyai pengaruh yang kuat. Begitu juga terhadap figur tokoh dan identifikasi politik yang diusung, variabel agama dan isu-isu politik/program dari calon ternyata tidak begitu besar pengaruhnya dalam menentukan pilihan politiknya.

Hal lain yang menyebabkan pendidikan pemilih pemula penting adalah perubahan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik yang menjadi dasar penyelenggaraan Pemilu 2009 diperkirakan menimbulkan kesulitan baru bagi pemilih. Kesulitan tersebut bersifat teknis terutama cara pemberian suara yang tidak lagi dengan cara mencoblos, tapi dengan memberi tanda silang pada surat suara untuk menjamin sahnya suara yang diberikan.

Siapa Pemilih Pemula?

Dalam undang-undang pemilihan umum, pemilih pemula adalah mereka yang telah berusia 17-21 tahun, yang telah memiliki hak suara dalam pemilihan umum (dan Pilkada). Layaknya sebagai pemilih pemula, mereka selalu dianggap tidak memiliki pengalaman voting pada pemilu sebelumnya. Namun, ketiadaanpengalaman bukan berarti mencerminkan keterbatasan menyalurkan aspirasi politik. Mereka tetap melaksanakan hak pilihnya di tempat pemungutan suara.

Kaum pemilih pemula yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, sebenarnya di satu sisi menjadi segmen yang memang unik, seringkali memunculkan kejutan, dan tentu menjanjikan secara kuantitas. Unik, sebab perilaku pemilih pemula dengan antusiasme tinggi, relatif lebih rasional, haus akan perubahan, dan tipis akan kadar polusi pragmatisme.

Pendidikan pemilih merupakan bagian dari pendidikan politik. Pendidikan politik tidak hanya menjadi tanggungjawab penyelenggara, tapi menjadi domain partai politik. Dalam ketentuan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik menyatakan bahwa partai politik berfungsi sebagai sarana pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi warga Negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Urgensi Pendidikan Pemilih Pemula

Pendidikan pemilih bagi pembelajar sangat penting, agar dalam pilkada nanti mereka dapat menentukan pilihannya secara cerdas, kritis, rasional, dan bertanggung jawab, di samping juga untuk menyelamatkan mereka dari eksploitasi politis para praktisi politik. Kita tahu bahwa pemilih adalah bahan baku suksesnya suatu pemilihan, baik itu pilkada maupun pilpres.

Pendidikan pemilih ini akan fokus kepada pemilih pemula, yaitu mereka yang masih remaja atau yang baru akan ikut pemilihan pertama kali. Mereka kita coba pahamkan untuk melakukan pemilihan secara rasional dalam pemilihan umum, misalnya kita kenalkan siapa calonnya, dan bagaimana caranya. Jadi harapannya mereka menjadi pemilih rasional.

Jadi untuk pendidikan pemilih khususnya untuk pemilih pemula, harus kita informasikan tentang calon, jangan sampai kita membeli kucing dalam karung. Oleh karena itu kita harus benar-benar tahu latar belakang kandidat tersebut.

Untuk melakukan pendidikan pemilih itu adalah suatu kewajiban, karena Voter Education ini efeknya akan luas sekali. Pertama bagi masyarakat itu sendiri, karena masyarakat belum paham betul akan demokrasi, maka bisa terjadi chaos. Kedua pada pemerintah, yaitu terkait dengan legitimasi terhadap pemerintah tersebut.

Kemudian kembali kepada masyarakat itu lagi. Kalau masyarakat tidak tahu siapa yang akan dipilih, mereka memilih atas dasar uang atau saudara atau yang lain, hal ini akan berimbas pada pemerataan pembangunan yang akan dilakukan oleh pemerintah.

Sasaran utama untuk pemilih pemula adalah pemahaman mereka tentang demokrasi, yaitu bagaimana berdemokrasi di masyarakat nanti. Jadi mulai dari tahapan-tahapan awal berdemokrasi sampai nanti pada pelaksanaan pilkada. Pada saat penentuan atau pemilihan mereka bisa melakukannya sesuai kehendak hatinya, atau hati nurani. Bukan karena ada paksaan atau iming-iming.

Kalau memang ada yang memaksa terus, ya barangnya kita terima tetapi pilihan tetap sesuai dengan hati nurani. Karena memang sering kali ada yang memaksa, dan itu dilakukan dengan berbagai cara dan oleh beberapa pihak.

Inilah pentingnya voter education tadi, sehingga masyarakat tahu tentang bagaimana proses pilkada itu, kemudian siapa yang akan dia pilih dan juga bahwa dia ikut bertanggung jawab atas pilkada dan hasilnya, karena ke depan akan bersangkutan dengan dia juga. Jadi perlu sekali adanya pendidikan pemilih, bisa lewat media atau pun cara-cara yang lain.

Kesimpulan

Begitu pentingnya pendidikan pemilih, sehingga kita menaruh harapan begitu besar pada terselenggaranya pilkada yang demokratis. Pada akhirnya nanti dapat mengantarkan kita untuk mewujudkan suatu masyarakat yang madani, yaitu masyarakat yang mampu berkreasi secara maksimal dan menyerap nilai-nilai demokrasi secara konstruktif, sehingga kita memiliki suatu sistem politik yang makin demokratis.

Pilkada sebagai proses politik yang secara substansial hendak mengakomodasi aspirasi rakyat harus dijadikan sebagai sarana untuk memberdayakan kesadaran politik pemilih.

Mewujudkan semua ini, merupakan tanggung jawab semua pihak, karena untuk mewujudkan pilkada yang berkualitas tidak hanya terkait dengan kualitas mekanisme teknisnya, melainkan kesiapan masyarakat pemilih untuk menjadi masyarakat politik yang arif, bijaksana, kritis, cerdas, dan bertanggung jawab sebagai sesuatu yang lebih penting dari sekadar instrumen teknis pilkada. (dimuat di Radar Lamsel, 4 Juni 2008).

1 Response to “Urgensi Pendidikan Pemilih Pemula”


  1. 1 imraanmuslim December 28, 2008 at 11:46 am

    ya, pendidikan pemilih pemula penting untuk mereka yang memiliki hak untuk memilih dalam sistem demokrasi Indonesia. Pentingnya pendidikan ini sejalan dengan pentingnya pemilihan itu sendiri dalam membangun masyarakat dan bangsa yang berdemokrasi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: